Ormas dan Tokoh Agama Memiliki Peran Strategis Menanggapi Radikalisme
djfaroff

Ormas dan Tokoh Agama Memiliki Peran Strategis Menanggapi Radikalisme

Ormas dan Tokoh Agama Memiliki Peran Strategis Menanggapi Radikalisme – Anggota Demokratik Suriah juga mengeluarkan sebuah  pengumuman mengenai kehancuran yang terjadi pada seluruh jaringan pada kelompok teroris, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) beberapa waktu lalu. Pengumuman ini seakan-akan menjadi sebuah akhir dari sebuah perjuangan  dan  juga pertempuran yang lama terhadap para anggota ISIS. Walaupun demikian sesudah keruntuhan ISIS tersebut, yang menjadi tantangan tervesarnya ialah ideologi radikalisme agar tidak membawa pengaruh kepada masyarakat dan juga mennetang lahirnya kekerasab baru di Indonesia. 

Dikarenakan unsur-unsur ideologi yang begitu melekat pada kumpulan ISIS yang berada di Tanah Air tidak mudah luntur. Dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia seperti Nu dan juga MUuhammadiyah menganut paham moderat, tetapi nampaknya mereka belum secara maksimal menolong mengikiskan radikalisme yang berkembang di masyarakat. Yang menjadi salah satu penyebabnya dikarenakan pada masing-masing organisasinya bergerak sendiri pada lingkungan mereka ataupun mereka merasa tidak diikutsertakan secara formal pada program deradikalisasi. Sebagai contoh, Nahdlatul Ulama.

Ormas dan Tokoh Agama Memiliki Peran Strategis Menanggapi Radikalisme

Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali menuturkan bahwa NU sudah membantu melakukan program deradikalisasi namun ini melewati aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada kalangan internal organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia. NU tanpa adanya program tersebut pun sudah melakukan sendiri karena kita akan merasa sebagi pihak yang akan dipaksa juga mengenai paham-paham yang kita sebut transnasional.

Dan selainnya NU juga telah diajak oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau dikenal dengan BNPT yang berperan untuk memberantas radikalisme namun upaya tersebut belum maksimal. Segala anggarannya harus jelas dan peranan yang jelas juga. Kalau hanya sekedar mengenai ceramahnya saja tidak memiliki sebuah manfaat, begitulah kata wakil kepala BIN yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua PBNU.

Jadi apabila tidak memiliki strategio dan sasaran yang jelas, hubungan kerja sama organisasi masyarakat dengan BNPT atau kepolisian tidak akan berjalan secara maksimal. Maka itu, organisasi massa keagamaan sepwrti organisasi NU, Muhammadiyah dan juga ormas yang lainnya di Indonesia yang memiliki peraqn cukup bagus untuk ikut dan mewaspadai, membendung, dan menangkal berkembangnya ideologi-ideologi  radikal atau paham yang mengandung kekerasan dari anggota ISI di Indonesia yang sebelumnya ingin mendeklarasikan khilafah.

Banyak yang mengira bahwa ormas-ormas seperti diantaranya NU, Muhammadiyah dan juga organisasi masyarakat lainnya yang memiliki peran strategis dalam membendung ideologi ISIS tersebut. Dikarenakan salah satu keunggulan ormas tersebut yaitu memiliki basis konstituen secara nyata dan juga jelas. Organisasi masyarakat ini diharuskan untuk terlibat secara aktif, seperti pada level hulu pada artian yang turut terlibat dalam merumuskan segala kebijakan termasuk juga dalam upaya membendung di level apakah itu di Undang-Undang ataupun peraturan,  ujar

Ormas dan Tokoh Agama Memiliki Peran Strategis Menanggapi Radikalisme

para peneliti yang berada di Lembaga Penelitian, Pedndidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Dikatakan Adnan, ormas juga harus terlibat secara aktif untuk memasukkan prioritas bahwa pencegahan untuk melarang organisasi radikal seperti ISIS ini harus menjadi semacam platform atau program yang secara intensif mereka lakukan baik di dalam forum-forum organisasinya maupun aksi-aksi yang bisa mereka lakukan baik aksi pencegahan maupun aksi penegakan hukum untuk membantu pemerintah.

“Peran ormas ini tidak dimiliki negara lain. Karena di negara lain peran ormas sangat kurang terlihat. Sementara di Indonesia, ormas itu sangat strategis karena lahir bersama masyarakat. Apalagi ormas punya jangkauan untuk mencegah dan mengadang berbagai macam pembesaran paham ideologi seperti itu, karena mereka memiliki basis massa yang jelas dan terukur jumlahnya,” kata tokoh muda Nahdlatul Ulama ini.

Tidak hanya ormas, Adnan juga telah melihat tokoh agama atau mubalig yang mempunyai wawasan Islam Moderat juga memiliki peran penting dalam membendung ideologi kekerasan tersebut pada masyarakat. Dikarenakan, tokoh agama atau mubalig-mubalig juga sering langsung terjun ke lingkungan masyarakat dimana mereka sering mengsosialisasikan mengenai bahaya dari penyebaran ajaran Isis. “Tentunya ini akan sangat menarik. Jadi kekuatan dari arus yang berasal dari atas ataupun bawah secara bersama-sama menjadikan Isis sebagai suatu ideologi yang berbahaya. 

Organisasi masyarakat bersama dnegan tokoh agama sama-sama melindungi masyarakatnya, begitulah kata alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini. Apabila peranan ormas dan para tokoh agama yang dapat saling di sinergikan tentunya dapat menjadi kekuatan yang berlapis dan akan sulit untuk ditembus. Mantan wakil Sekjen PBNU ini mengungkapkan bahwa model yang seperti ini baik pada ormas dan masyarakatnya sama-sama membentengi dirinya dengan berbagai kegiatan yang sifatnya akan preventif ataupun kegiatan yang sifatnya ikut aksi dalam pencegahan tersebut. Jadi ikut beraksi dalam pemberantasan model ideologi radikal seperti pada yang terjadi dalam organisasi ISIS.

Adnan juga menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi untuk memperkuat masyarakat baik dimulai pada keluarga inti sampai masyarakat sekitar bahwa ideologi kekerasan seperti yang dilakukan ISIS tersebut sangat berbahaya. Bahkan pada sebagian di negara Timur Tengah, terdapat semaca  sosialisasi pada negara yang materainya dipakai untuk pendidikan dalam keluarga. Modelnya seperti pada pendidikan keluarga pada zaman dulu seperti P4, dimana bentuknya seperti itu, konvensional diintervensi melalui pertemuan warga, RT ataupun RW,  pertemuan kerukunan dan sebagainya namun isi dari materinya tersebut ialah memberi tahu tentang bahayanya ISIS.

 Dan itu cukup efektif dan berhasil memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk waspada  Jadi masuk dalam materi prioritas pendidikan keluarga. Pendidikan dan penguatan keluarga, dan itu relatif berhasil. Sehingga ada  benteng yang sifatnya langsung ke masyarakat,” katanya.

Tidak hanya itu, menurutnya lembaga pendidikan perlu membentengi para siswanya tidak mudah termakan bujuk rayu yang dilakukan oleh ISIS. Dihubungkan dengan materi dan konten ini para pelajar yang sangat bergantung dengan gurunya. Khusus untuk soal guru ini pemerintah harus memiliki perhatian khusus, karena guru ini adalah media yang paling efektif untuk mempengaruhi cara berpikirnya pelajar ini. Jadikan diperlukan semacam pembinaan dan pemantauan guru-guru yang rutin dilakukan oleh instansi yang berhubung seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama untuk selalu melakukan sosialisasi bahaya penyebaran bahaya radikalisme. ISIS ini di kalangan guru. Karena guru ini adalah sumber informasi pertama bagi seorang murid ini. Diharapkan ideologi seperti ini tidak muncul dari kalangan para guru.

Terkait dengan kemungkinan adanya warga Indonesia yang sudah terlanjur berhijrah ke Suriah lalu mereka ingin kembali ke Tanah Air, Adnan mengatakan perlu instrumen deradikalsiasi dari pemerintah. Selain itu juga harus dilakukan pemilahan yakni mana warga yang berangkat karena awam akibat korban propaganda dan mana yang berangkat karena kombatan.

“Kalau yang berangkat karena terpengaruh propaganda  mungkin bisa dilakukan upaya pendekatan deradikalisasi. Perlu dilakukan pendekatan dengan ideologi bangsa kita agar kelompok ini ideologinya akan kembali pulih untuk cinta pada NKRI. Dan harus berkesinambungan,” ujarnya.