Organisasi Islam Tertua di Indonesia
djfaroff

Organisasi Islam Tertua di Indonesia

Organisasi Islam Tertua di Indonesia – Muhammadiyah adalah organisasi Islam tertua di Indonesia yang masih bertahan, tumbuh, dan berkembang tidak hanya di Indonesia tetapi juga memperluas jangkauannya di luar perbatasan. Muhammadiyah juga dikenal luas karena upaya amal yang besar di bidang pendidikan, kesehatan, layanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan berdakwah atas dasar umat atau komunitas. Muhammadiyah juga bergerak melalui organisasi perempuannya yaitu Aisyiyah, sebuah organisasi Islam yang telah memimpin kebangkitan perempuan Muslim Indonesia. Muhammadiyah bahkan dikenal sebagai organisasi yang cerdas dan modern.

Tetapi apakah generasi milenial yang tidak pernah berhubungan dengan institusi Muhammadiyah masih mungkin mengenal Muhammadiyah? Apakah remaja yang lahir pada periode terakhir, di kota-kota besar atau daerah terpencil di negara itu masih mengakui keberadaan Muhammadiyah? Pertanyaan yang menggelitik ini penting untuk dicermati yang mungkin merupakan generasi yang lebih baru, yang kurang akrab dengan Muhammadiyah. Inilah mengapa upaya untuk terus membawa dan memperkenalkan Muhammadiyah kepada kaum muda, termasuk melalui media sosial, dianggap sebagai langkah penting. Melalui media sosial, perlu untuk memberi tahu orang-orang tentang apa dan bagaimana Muhammadiyah sebagai gerakan Islam menyebarkan pemikiran dan misi tajdidnya untuk membawa kemajuan bagi masyarakat, bangsa dan kemanusiaan universal.

Organisasi Islam Tertua di Indonesia

Muhammadiyah telah lama dikenal oleh masyarakat luas, baik domestik maupun internasional. “Siapa yang tidak kenal Muhammadiyah?”, Presiden Soeharto berkata, yang menyatakan dirinya “benih Muhammadiyah” karena ia telah belajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah di Wonogiri. Presiden Soekarno sejak 1933 bahkan telah dikenal sebagai anggota dan administrator Muhammadiyah. Ada tokoh-tokoh penting lainnya seperti Jenderal Sudirman, Ir Djuanda, Dr. Soetomo, termasuk pemimpin Muhammadiyah, yaitu Kiai Mas Mansur, yang juga dikenal sebagai Tokoh Empat (bersama Sukarno, Moehammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara), Ki Bagus Hadikusumo (Anggota BPUPKI), Prof. KH Kahar Muzakkir (Anggota perumus Piagam Jakarta), Bapak Kasman Singodimedjo (Ketua KNIP, Jaksa Agung Pertama), Dr. Rasjidi (Menteri Agama Pertama), Buya HAMKA, dan lainnya. Selain itu, Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan Aisyiyah, juga dinyatakan oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. slot online

Demikian juga, institusi pendidikan, rumah sakit, kantor, dan bisnis amal Muhammadiyah hampir dapat ditemukan di setiap sudut negara. Dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah benar-benar sebuah organisasi Islam yang melekat dalam denyut kehidupan orang Indonesia. Masyarakat luas sangat mengenal Muhammadiyah melalui upaya amal seperti institusi pendidikan yang terdiri dari Sekolah Dasar hingga Pendidikan Tinggi, Rumah Sakit dan Poliklinik, Panti Asuhan, dan lainnya. Di seluruh negeri ada banyak sekali lulusan sekolah Muhammadiyah, termasuk Prof. Dr. Boediyono, Wakil Presiden Republik Indonesia (2009-2014) termasuk lulusan Sekolah Dasar Muhammadiyah di Blitar. Ini adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan berbagai karya praktis yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Lantas siapa yang tidak kenal Muhammadiyah?

Muhammadiyah perlu diakui dan dipahami dari berbagai aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan identitas gerakan Islam ini. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang didirikan di Yogyakarta pada 18 November 1912, atau 8 Dzulhijjah pada 1330 Hijriyah dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Sejak didirikan, Muhammadiyah telah melaksanakan misi dakwah untuk menyebarkan dan merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat. Muhammadiyah juga melaksanakan misi tajdid untuk memperbarui pandangan dan cara-cara mempraktikkan Islam dalam kehidupan umat Islam sehingga Islam menjadi agama yang membawa kemajuan dalam kehidupan semua umat manusia di bumi. Dengan demikian kehadiran Muhammadiyah melalui dakwah dan misi tajdid dapat menghadirkan Islam sebagai berkah bagi alam semesta.

Muhammadiyah mengakui Islam sebagai prinsip gerakan. Pada saat yang sama, Islam menjadi dasar dan pedoman hidup. Dengan mempraktikkan Islam dalam aspek iman, ibadah, moral, dan mu’amalah-dunyawiyah. Dengan demikian itu bisa membawa kebahagiaan ke kehidupan di dunia dan akhirat. Maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan ajaran Islam menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sejati. Dengan komunitas Islam yang diwujudkan oleh Muhammadiyah, dalam kehidupan manusia yang lebih luas dapat direalisasikan apa yang disebut Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, kehidupan yang serba guna di bawah naungan Ilahi.

Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dengan pengalaman lama seabad, ia telah menjadi organisasi Islam yang sangat besar ion di Indonesia. Muhammadiyah bahkan dikenal sebagai organisasi Islam modern terbesar tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia (Madjid, 1999; Peacock, 1978, 1986). Oleh karena itu dalam hal kualitas, diukur dari sistem organisasi modern; upayanya untuk amal dalam bidang pendidikan, kesehatan, layanan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat; serta dari kemajuan pemikirannya dan karya perintisnya dalam reformasi; dan melihat pekerjaan sosial dan nasionalnya dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, terutama dalam hal kualitas dan sistem organisasinya. Parameter dalam hal kualitas sama pentingnya bagi masyarakat Indonesia. Sehingga tidak harus bangga dengan kuantitas semata sementara rakyat lemah dan tertinggal. Pujian tentang Muhammadiyah ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada Allah, bukan sebagai bentuk sombong dan sombong. Serta penghargaan atas peran dan pengabdian para pionir dan penerus gerakan Muhammadiyah dalam menjalankan misi misionaris dan tajdid demi kejayaan rakyat, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Muhammadiyah lahir, tumbuh, dan dikembangkan dengan perjuangan yang dinamis antara pasang surut dan melalui banyak kendala dan tantangan. Pendirinya Kiai Haji Ahmad Dahlan, yang, ketika ia masih muda dikenal sebagai Muhammad Darwis telah mendirikan Muhammadiyah dengan teman-teman dan teman-temannya, benar-benar dihadapkan dengan banyak oposisi. Di desa Kauman Yogyakarta, tempat kelahiran organisasi Islam ini, ada banyak kendala yang dihadapi oleh Kiai Dahlan dan gerakan Muhammadiyah yang ia dirikan. Muhammadiyah dianggap sebagai “agama baru” karena membawa gagasan reformasi (tajdid) yang belum dikenal pada waktu itu di kalangan umat Islam yang pemikirannya masih sangat kaku (konservatif, tradisional).

Kiai Dahlan dan reformasi generasi awal Muhammadiyah seperti menyelaraskan arah kiblat, memperkenalkan sistem pendidikan Islam modern, memelopori taman perpustakaan dan gerakan literasi ilmiah, mendirikan organisasi Islam perempuan bernama Aisyiyah, mendirikan rumah sakit atau poliklinik dan lembaga layanan sosial, dan memperbaiki pemahaman yang salah tentang Islam yang mencakup syirik, takhayul, bid’ah, dan khurafat. Kiai Dahlan bahkan dianggap “kafir” atau menyimpang dari Islam karena ia memperkenalkan gagasan reformasi. Padahal pendiri Muhammadiyah sebenarnya mengundang umat Islam untuk kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang sejati dengan mengembangkan ijtihad untuk membawa Islam untuk menjawab masalah dan tantangan zaman.

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan reformasi Islam. Kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi Islam (tajdid fil-Islam) sering dikaitkan dengan gerakan tajdid lain di dunia Islam sebelumnya yang dipelopori oleh Ibn Taymiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ahmad Khan, Syekh Waliyullah, dan lainnya. Gaya reformasi Islam kuat dalam pemurnian Islam (purifikasi), beberapa berorientasi pada reformasi itu sendiri (dinamisasi), terutama di bidang pemikiran dan perkembangan Islam. Kiai Dahlan menyerap pemikiran reformasi Islam. Tetapi pendiri Muhammadiyah memiliki perbedaan yang tidak dimiliki oleh para reformis Islam sebelumnya (mujadid). Ahmad Dahlan memperkenalkan hal-hal yang sama sekali baru seperti reformasi gerakan perempuan Islam untuk bergerak di ruang publik, yaitu Aisyiyah (1917) serta lahirnya lembaga sosial Islam baru seperti lembaga pendidikan modern, lembaga layanan kesehatan dan sosial, kepanduan gerakan, dan pendekatan dakwah budaya yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia atau khususnya masyarakat Yogyakarta pada waktu itu.

Karakter Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi tidak hanya sebagai gerakan pemurnian tetapi juga kuat dalam reformasi (dinamisasi) serta moderat (wasithiyah), yang berbeda dengan gerakan reformasi Islam di Timur Tengah. Oleh karena itu Muhammadiyah berbeda dari gerakan Islam di negara-negara Arab, sehingga benar-benar salah jika ada yang menyebut Muhammadiyah sebagai Wahabbi, pandangan Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Arab Saudi. Muhammadiyah moderat dalam reformasi dan orientasi gerakannya, dan didasarkan pada masyarakat dan negara Indonesia, sehingga penampilannya damai dan toleran sambil membawa kemajuan. Muhammadiyah bukanlah organisasi yang ganas dalam dakwah, tetapi juga tidak tradisional, sehingga dapat disebut sebagai organisasi Islam moderat progresif.

Muhammadiyah juga memainkan peran historis yang penting dalam gerakan kebangkitan nasional dan perjuangan untuk kemerdekaan. Gerakan kepanduan Hizbul Wathan (1918) menunjukkan gerakan patriotik dan nasionalis, yang lahir dari hati seorang pemuda bernama Sudirman yang juga pelopor perang gerilya dan Bapak Tentara Nasional Indonesia. Ro Aisyiyah le di Kongres Perempuan pada tahun 1928 juga menjadi tonggak kebangkitan perempuan Indonesia. Demikian juga, karya rintisan Majalah Soeara Moehammadijah (SM) pada tahun 1915 yang pada tahun 1923 memperkenalkan penggunaan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia bahkan sebelum tahun 1928, Deklarasi Sumpah Pemuda (Sumpah Pemuda) sangat monumental dalam meletakkan fondasi Indonesia. Pekerjaannya membangun masyarakat pasca kemerdekaan dalam berbagai fase pemerintahan juga tidak terhitung, sehingga menjadi gerakan Islam dan nasionalis sejati. Di Indonesia Timur, Muhammadiyah memiliki peran besar dalam memajukan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat sehingga menunjukkan dirinya sebagai gerakan majemuk melalui praktik nyata tanpa retorika dan kata-kata belaka.

Demikian juga dalam memperbaharui pikiran kaum Muslim dan rakyat Indonesia untuk menjadi progresif, benar-benar merupakan jejak sejarah perjuangan Indonesia yang mahal. Peran Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah sejak didirikan pada tahun 1917 sangat besar, termasuk mengambil bagian dalam memelopori Kongres Perempuan pertama pada tahun 1928. Juga dicatat peran Kiai Mas Mansur sebagai Tokoh Empat Senar dengan Sukarno, Moehammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara selama perjuangan pendudukan Jepang. Dalam momen yang paling menentukan juga peran Ki Bagus Hadikusumo yang meletakkan dasar poin ‘Tuhan Yang Maha Esa dalam perjuangan untuk Indonesia merdeka yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Bagian kiprah Muhammadiyah ini menunjukkan bukti Islam modern. Gerakan yang dipelopori oleh Muhammadiyah yang sangat menentukan perjuangan umat Islam dan Indonesia di awal abad ke-20 hingga Indonesia menjadi merdeka dan pascakemerdekaan hingga saat ini. Oleh karena itu Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan, dari keberadaan dan perjuangan Islam di Indonesia dan perjuangan Indonesia dari pendiriannya sampai sekarang dan di masa depan.

Organisasi Islam Tertua di Indonesia

Oleh karena itu penting untuk memahami sejarah, keberadaan, kelahiran, perkembangan, karakter, dan setiap detail Muhammadiyah dalam berbagai aspek baik untuk orang-orang Muhammadiyah dan mereka yang ingin lebih mengenal Muhammadiyah sebagai gerakan Islam di Indonesia. Bagaimana Muhammadiyah lahir, apa sifat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, bagaimana hubungan Muhammadiyah dengan gerakan reformasi Islam di dunia Islam lainnya, apa posisi Muhammadiyah dalam konteks Islam Indonesia, bagaimana dengan komunitas Islam sejati itulah tujuan Muhammadiyah, bagaimana karakter Muhammadiyah dibandingkan dengan gerakan Islam lainnya, bagaimana menggambarkan gerakan Aisyiyah dan organisasi otonom lainnya sebagai komponen strategis dalam naungan organisasi Muhammadiyah untuk mewujudkan tujuan gerakan Islam yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Memahami dan mempelajari Muhammadiyah benar-benar merupakan bagian penting dalam proses belajar tentang sejarah umat Islam dan perjuangan rakyat Indonesia yang tak berkesudahan. Bagi generasi muda Muslim, mempelajari Muhammadiyah sebagai subjek di kelas (Kemuhammadiyahan) adalah sesuatu yang perlu diarusutamakan untuk memahami sejarah bangsa bersama dengan Muhammadiyah sebagai agen reformasi nasional di Indonesia, sehingga Islam progresif membawa rahmatan lil-‘alamin bisa diwujudkan.